“Memangnya harus begitu?” Pertanyaan sederhana yang mungkin terdengar sepele. Namun, banyak perubahan besar justru bermula dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Kita sering mendengar istilah think out of the box. Istilah yang terdengar keren, tetapi sering berhenti sebatas slogan. Padahal, pola pikir tersebut bukan sekadar menjadi pembeda yang dilakukan siapapun. Lebih dari itu, out of the box sebagai kemampuan mempertanyakan cara berpikir yang sudah terlalu lama kita anggap benar. Sebab, terkadang yang membatasi bukan keadaan, melainkan cara kita memandang keadaan tersebut.

Ilustrasi seorang pria sedang berpikir (Chinmay Singh/Pexels)

Kita Semua Hidup di Dalam “Kotak”

Tidak ada kotak yang benar-benar terlihat. Kotak tersebut berupa kebiasaan, pengalaman, aturan tidak tertulis, pendidikan, lingkungan, bahkan kalimat-kalimat yang sejak kecil terus kita dengar. Kalimat tersebut seperti.

“Kalau ingin nilai bagus, ya harus belajar lebih lama”. “Kalau ingin mendapatkan uang, ya harus bekerja lebih keras”. “Kalau ingin sukses, ikuti saja jalan yang sudah ditempuh orang lain”.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dari kalimat-kalimat tersebut. Namun, persoalannya muncul ketika kita mulai percaya bahwa hanya itulah jalan yang tersedia. Di situlah sebuah kebiasaan berubah menjadi batas. Kita tidak lagi bertanya apakah ada cara lain. Kita hanya menjalankan cara yang sudah tersedia.

Ketika Masalah Didekati dengan Pertanyaan yang Salah

Bayangkan sebuah toko mengalami penurunan penjualan. Respons yang umum mungkin cukup mudah ditebak.

Berikan diskon. Tambah iklan. Tambahkan produk. Cari pelanggan baru.

Semua terdengar logis. Tetapi bagaimana jika pertanyaannya diubah?

Bukan, “Bagaimana cara mendapatkan lebih banyak pelanggan?”. Melainkan “Mengapa pelanggan tidak membeli?”

Tiba-tiba kemungkinan jawabannya menjadi jauh lebih luas. Mungkin harga bukan masalahnya. Mungkin pelanggan tidak memahami manfaat produk. Mungkin produknya bagus, tetapi cara menjelaskannya buruk. Atau mungkin orang sebenarnya membutuhkan produk tersebut, tetapi belum menyadari kebutuhannya. Satu perubahan pertanyaan dapat mengubah arah pencarian solusi. Itulah salah satu inti dari berpikir di luar kotak.

Out of The Box Bukan Berarti Harus Aneh

Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi. Berpikir out of the box dianggap berarti harus melakukan sesuatu yang aneh, unik, atau berlawanan dengan kebiasaan. Padahal konsep itu tidak selalu benar. Berbeda belum tentu benar. Unik belum tentu berguna. Ide yang terlihat gila belum tentu merupakan ide yang baik.

Berpikir out of the box bukan tentang sengaja menjadi berbeda. Ia adalah kemampuan untuk melepaskan diri sejenak dari asumsi yang selama ini kita gunakan. Selanjutnya melihat persoalan dari perspektif lain. Pertanyaannya bukanlah,

“Bagaimana saya melakukan sesuatu yang berbeda?”

Tetapi:

“Apakah cara yang selama ini saya gunakan memang satu-satunya cara?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berbahaya. Karena sekali kita mempertanyakannya, kita mulai melihat kemungkinan lain.

Coba Balik Pertanyaannya

Salah satu cara sederhana melatih pola pikir out of the box adalah membalik pertanyaan. Misalnya, “Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih lama?” Selanjutnya, ubah menjadi “Bagaimana supaya pekerjaan ini selesai lebih cepat?” Contoh lainnya seperti “Bagaimana mendapatkan lebih banyak pelanggan?” yang dapat diubah menjadi “Bagaimana membuat pelanggan yang sudah ada kembali membeli?”

Dalam dunia pendidikan, pertanyaannya juga bisa diubah. Bukan “Bagaimana membuat anak belajar lebih banyak?” Akan tetapi “Bagaimana membuat anak ingin belajar tanpa harus terus-menerus disuruh?” Sementara dalam pekerjaan “Bagaimana saya menghasilkan lebih banyak uang?” bisa diganti menjadi “Masalah apa yang bisa saya selesaikan sehingga orang bersedia membayar?”

Pertanyaan yang berbeda akan mengarahkan pikiran ke tempat yang berbeda. Terkadang, solusi yang kita cari selama ini sebenarnya tidak pernah muncul karena kita terus mengajukan pertanyaan yang sama.

Jangan Terlalu Cepat Mengatakan “Tidak Bisa”

Kalimat “tidak bisa” sering kali terdengar seperti kesimpulan. Padahal, dalam banyak situasi, kalimat tersebut sebenarnya hanya berarti “saya belum tahu bagaimana caranya.” Keduanya sangat berbeda. Kata “tidak bisa” akan menutup pintu wawasan. Sementara “saya belum tahu caranya” membuat kita masih memiliki alasan untuk mencari.

Orang yang terbiasa berpikir kreatif tidak selalu memiliki pengetahuan paling banyak. Mereka hanya cenderung lebih lama mempertahankan rasa ingin tahu sebelum mengambil kesimpulan. Mereka bertanya:

“Bagaimana kalau…?”

“Apa yang terjadi jika…?”

“Kenapa harus begitu?”

“Bagaimana kalau dibalik?”

“Apakah ada cara yang lebih sederhana?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sederhana. Namun, pertanyaan sederhana yang tepat bisa menghasilkan jawaban yang luar biasa.

Kadang Kita Tidak Perlu Keluar dari Kotak

Ada ironi menarik dalam istilah out of the box. Kita tidak selalu harus benar-benar keluar dari kotak. Kadang kita hanya perlu mengubah posisi untuk melihat kotak tersebut dari sisi yang berbeda. Sebuah kegagalan yang terlihat sebagai akhir bisa saja sebagai informasi penting untuk memperbaiki strategi. Sebuah keterbatasan bisa memaksa kita menjadi lebih kreatif. Sebuah masalah yang tampak besar dari satu sisi bisa terlihat jauh lebih sederhana dari sisi lain. Karena itu, berpikir out of the box bukan hanya tentang menemukan ide baru. Lebih dalam dari itu, ia adalah kemampuan untuk mengubah sudut pandang.

Kotak Terbesar Sering Kali Ada di Kepala Kita

Kita sering mengira keterbatasan terbesar berasal dari keadaan. Tidak punya modal, tidak punya waktu, tidak punya koneksi, tidak punya teknologi, atau tidak punya kesempatan. Semua memang bisa menjadi hambatan. Tetapi ada satu hambatan yang sering kali tidak kita sadari. Kita sudah terlebih dahulu menentukan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin.

“Dari dulu memang begitu.” || “Semua orang juga melakukannya seperti itu.” || “Sudah pernah dicoba.” || “Tidak mungkin berhasil.” || “Memangnya bisa?”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar biasa. Namun jika terus diulang, ia dapat berubah menjadi tembok. Sebab, sebelum sebuah ide gagal di dunia nyata, sering kali ide tersebut sudah lebih dulu mati di kepala kita.

Berani Bertanya, Berani Mencoba

Berpikir out of the box tidak berarti setiap hari harus menghasilkan ide revolusioner. Tidak perlu berlebihan, tetapi mulailah dari hal sederhana. Ketika menghadapi masalah, jangan langsung bertanya, “Apa solusinya?” Berhentilah sejenak. Coba tanyakan, “Apa sebenarnya masalahnya?” kemudian “Asumsi apa yang sedang saya gunakan?”

Pertanyaan penting lainnya seperti “Bagaimana jika asumsi itu ternyata salah?” Di sanalah proses berpikir mulai bergerak. Karena dunia tidak selalu berubah ketika kita menemukan jawaban baru. Terkadang dunia berubah ketika seseorang berani mengajukan pertanyaan yang belum pernah ditanyakan sebelumnya. Pada akhirnya, berpikir out of the box bukan tentang menjadi orang paling berbeda di antara yang lain. Hal ini menjelaskan tentang keberanian untuk tidak selalu menerima sesuatu hanya karena “memang dari dulu begitu.”

Sebab bisa jadi, masalah yang selama ini kita anggap terlalu sulit bukan benar-benar sulit. Kita hanya melihatnya dari sudut yang sama berulang kali. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan mencari jalan keluar yang lebih jauh. Cukup bergeser sedikit. Melihat dari sisi lain. Lalu bertanya:

“Bagaimana kalau ternyata ada cara lain?”