Ada warisan budaya yang cukup dikenang di museum. Ada pula yang hanya tetap hidup ketika terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Jamu termasuk warisan yang kedua. Dalam segelas jamu tersimpan pengetahuan lintas generasi tentang tanaman obat, cara pengolahan, filosofi hidup seimbang, hingga hubungan manusia dengan alam. Pada 2023, UNESCO telah menetapkan Jamu Wellness Culture sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Endah Wahyuni, 2023). Pengakuan ini menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai universal yang layak dijaga. Namun, pengakuan internasional bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Warisan budaya tidak akan benar-benar hidup apabila hanya hadir dalam buku sejarah, festival tahunan, atau nostalgia generasi terdahulu. Pertanyaan yang jauh lebih penting, siapa yang akan meneruskan kebiasaan minum jamu ketika estafet zaman berganti.
Jika gen Z dan gen Alpha makin berjarak dari tradisi herbal Nusantara, mungkinkah jamu kelak hanya menjadi sebuah cerita? Cerita tentang minuman berkhasiat yang pernah begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kalau bukan generasi muda yang mengambil peran, haruskah jamu dibiarkan punah ditelan arus modernisasi? Jamu bukan sekadar cairan herbal berwarna gelap dengan rasa pahit. Di dalamnya tersimpan pengetahuan lokal mengenai botani, teknik pengolahan tanaman obat, filosofi hidup seimbang, hingga ruang interaksi antargenerasi. Dalam sejarah Nusantara, jamu hadir di dapur rumah tangga, pasar tradisional, dan ritual keluarga. Bahkan, jamu juga menjadi sumber penghidupan para penjual jamu gendong.
Kekayaan tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun, tetapi juga terdokumentasi secara ilmiah. Berdasarkan Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki sekitar 32.014 ramuan obat tradisional yang berasal dari 2.848 spesies tanaman obat (Badan POM, 2021). Besarnya kekayaan hayati ini menunjukkan bahwa jamu bukan hanya simbol budaya. Jamu juga termasuk aset pengetahuan yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Akan tetapi, realitas zaman telah bergeser drastis. Gen Z dan gen Alpha tumbuh dalam lanskap digital yang serba cepat, instan, dan visual. Menurut Badan Pusat Statistik melalui Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024, sejumlah 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Nilai tersebut meningkat dari 69,21% pada 2023 (BPS, 2025). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang digital makin mendominasi cara masyarakat memperoleh informasi sekaligus membentuk kebiasaan konsumsi. Dalam keseharian, generasi muda akrab dengan produk ready-to-drink (RTD), layanan pesan antar, media sosial, dan kemasan yang menarik secara visual. Sebaliknya, jamu masih sering dipersepsikan sebagai minuman pahit, rumit dibuat, serta identik dengan orang tua atau orang sakit. Kesenjangan citra inilah yang menciptakan jarak antara tradisi jamu dan dunia anak muda.
Padahal, tantangan kesehatan saat ini justru mengarah pada penyakit tidak menular. Tantangannya seperti meningkatnya stres, penurunan kualitas lingkungan, serta pola konsumsi makanan olahan. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari pendekatan preventive healthcare, yaitu menjaga kesehatan sebelum penyakit muncul. Dalam konteks inilah jamu memiliki peluang strategis. Tanaman seperti kunyit, temulawak, jahe, dan kencur mengandung berbagai senyawa bioaktif yang terus diteliti manfaatnya. Namun, pemanfaatannya tetap harus mengikuti prinsip berbasis bukti. Dalam hal ini perlu memperhatikan keamanan, mutu bahan, dosis, serta kondisi setiap individu sebagaimana ditekankan WHO dan BPOM.
Masalah utamanya bukanlah generasi muda menolak jamu. Mereka mungkin belum menemukan bentuk jamu yang relevan dengan gaya hidupnya. Menuntut gen Z dan gen Alpha mencintai jamu tanpa mengubah cara memperkenalkannya sama seperti memaksa seseorang membaca buku tua. Buku tanpa sampul yang menarik dan tanpa penjelasan manfaat dari isinya. Tradisi memang harus dipertahankan, tetapi cara penyampaiannya perlu beradaptasi. Di sisi lain, modernisasi juga tidak boleh menghilangkan identitas jamu. Ada dua kutub yang perlu dihindari. Pertama, tradisionalisme yang terlalu kaku hingga jamu terasa asing bagi generasi baru. Kedua, komersialisasi berlebihan yang mengorbankan filosofi, nilai budaya, dan keaslian racikan. Kutub kedua ini hanya mementingkan kepentingan pasar. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan titik temu antara inovasi dan pelestarian.
Pelestarian jamu tidak cukup berhenti pada slogan “anak muda harus bangga minum jamu”. Yang perlu dibangun adalah pengalaman yang membuat generasi muda memahami bahwa jamu bukan sekadar minuman. Generasi muda perlu memahami bahwa jamu adalah bagian dari identitas budaya sekaligus gaya hidup sehat. Gagasan ini selaras dengan WHO Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034. WHO menekankan pengembangan pengobatan tradisional berbasis bukti, bermutu, aman, dan terintegrasi dengan inovasi ilmu pengetahuan (World Health Organization, 2025).
- Inovasi Produk dan Kemasan yang Adaptif
Jamu perlu hadir dalam format yang sesuai dengan mobilitas tinggi generasi muda. Jamu perlu menjadi minuman siap konsumsi, konsentrat herbal, atau herbal shot. Kemasannya juga perlu dibuat menarik yang dilengkapi kode QR. Kode tersebut menghubungkan konsumen dengan cerita asal-usul ramuan, bahan yang digunakan, proses pembuatan, dan konteks budayanya. Dengan cara ini, kemasan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyampaikan warisan budaya.
- Digitalisasi Promosi dan Rebranding Kampanye Kreatif
Karena sebagian besar aktivitas Gen Z berlangsung di ruang digital, jamu harus hadir secara aktif di TikTok, Instagram, dan YouTube. Melalui platform tersebut dibuat konten edukatif yang estetis dan mudah dipahami. Generasi muda dapat menjadi content creator yang membagikan rutinitas sehat, resep keluarga, atau cerita di balik racikan jamu.
Kampanye seperti #7HariMinumJamu dapat dipadukan dengan konsep Jamu Passport. Konsep tersebut berupa tantangan digital yang memberi lencana atau poin setiap kali pengguna mencoba jenis jamu berbeda, mengunjungi UMKM herbal, atau mengikuti kelas meracik jamu. Pendekatan gamifikasi ini membuat pelestarian budaya terasa lebih menyenangkan tanpa menghilangkan nilai tradisinya. Selain itu, pentingnya minum jamu dapat disisipkan melalui adegan film layar lebar. Misalnya, tokoh dalam film dapat digambarkan mengonsumsi jamu sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan. Pengaruhnya, penonton tidak hanya mengenal jamu sebagai warisan tradisional, tetapi juga memahami relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
- Edukasi Berbasis Keluarga dan Lingkungan Pendidikan
Transmisi budaya paling kuat lahir dari lingkungan terdekat. Anak-anak dapat diajak menanam tanaman obat keluarga (TOGA). Selain itu, anak-anak diajak meracik minuman herbal sederhana dan mendengarkan kisah jamu dari orang tua atau kakek-neneknya. Sekolah juga dapat mengintegrasikan proyek jamu ke dalam pembelajaran berbasis proyek sehingga peserta didik mengenal jamu melalui pengalaman, bukan sekadar teori.
- Penguatan Sektor UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Wellness Tourism
Potensi ekonomi jamu juga sangat besar. Pemerintah mencatat bahwa sekitar 87,2% industri obat tradisional didominasi pelaku UMKM sehingga penguatan sektor ini berpotensi langsung meningkatkan ekonomi lokal (Badan POM, 2022). Di beberapa daerah, UMKM jamu bahkan pernah mengalami kenaikan penjualan hingga 300–400% per hari ketika permintaan produk herbal meningkat (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dan pemasaran yang tepat dapat memperluas pasar jamu. Kehadiran jamu bar, artisan kafe herbal, atau kawasan wisata berbasis herbal dapat menciptakan pengalaman baru bagi anak muda maupun wisatawan. Integrasi jamu dengan spa tradisional, meditasi, atau racikan herbal personal dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wellness tourism. Pendekatan ini menjadikan jamu tidak hanya dipandang sebagai minuman tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman kesehatan yang menyeluruh. Selain itu, integrasi tersebut dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi pelaku UMKM. Seluruh inovasi tersebut tetap harus berada dalam koridor tanggung jawab.

Produsen tidak boleh melakukan klaim kesehatan berlebihan demi kepentingan pemasaran. Pengembangan produk harus mematuhi standar BPOM terkait mutu, keamanan, dan Obat Bahan Alam. BPOM sangat berperan penting dalam mendorong kemajuan industri bahan alam. Pengawasan dilakukan sejak tahap pre-market hingga post-market. Pengawasan ini tidak hanya mencakup pemeriksaan sarana dan pengujian produk. BPOM juga mendampingi proses riset dan pengembangan. Pelaku usaha turut mendapat pendampingan dan edukasi. Upaya tersebut telah memberikan dampak positif bagi 160 industri dan 1.104 UMKM obat bahan alam di seluruh Indonesia (Badan POM, 2026). Di sinilah generasi muda dapat mengambil peran bukan hanya sebagai konsumen. Akan tetapi juga sebagai peneliti, formulator, pengusaha, dan penjaga mutu jamu Indonesia.
Masa depan jamu tidak ditentukan oleh banyaknya buku resep yang tersimpan di perpustakaan atau penghargaan yang dipajang di etalase. Masa depan jamu bergantung pada sejauh mana generasi muda merasa bahwa segelas jamu memiliki manfaat nyata bagi kehidupan.
Keberhasilan pelestarian jamu bukan diukur dari seberapa banyak anak muda dipaksa meminumnya. Keberhasilan ditentukan sejauh mana mereka mengenal, menggunakan, dan mengembangkannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Indonesia memiliki lebih dari 32 ribu ramuan tradisional dan ribuan spesies tanaman obat yang menjadi kekayaan hayati bangsa. Selain itu, mayoritas industri jamu di Indonesia ditopang oleh pelaku UMKM yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi yang kuat untuk menjadikan jamu sebagai identitas budaya sekaligus solusi kesehatan masa depan.
Jamu tidak perlu memilih antara menjadi tradisional atau modern. Ia dapat tetap berakar pada nilai budaya sekaligus bertumbuh melalui inovasi. Kalau bukan generasi muda, haruskah jamu punah? Jawabannya tentu tidak. Yang perlu diwariskan bukan hanya resepnya, tetapi juga alasan mengapa resep itu tetap relevan. Ketika generasi muda mampu mengubah jamu dari sekadar warisan menjadi kebiasaan, Indonesia tidak hanya berhasil menjaga identitas budayanya, tetapi juga memperkenalkan solusi kesehatan berbasis kearifan lokal kepada dunia.
STORE
Referensi:
Badan POM. 2021. Siaran Pers: Badan POM Lestarikan Jamu Nusantara dengan Rangkaian Kegiatan Napak Tilas Jejak Empiris Obat Tradisional Berbahan Alam Indonesia. Di akses dari https://www.pom.go.id/siaran-pers/badan-pom-lestarikan-jamu-nusantara-dengan-rangkaian-kegiatan-napak-tilas-jejak-empiris-obat-tradisional-berbahan-alam-indonesia pada 22 Agustus 2026.
Badan POM. 2022. Badan POM Dukung UMKM Obat Tradisional dan Jamu Sebagai Kunci Wellness Tourism. Di akses dari https://www.pom.go.id/berita/badan-pom-dukung-umkm-obat-tradisional-dan-jamu-sebagai-kunci-wellness-tourism pada 22 Agustus 2026.
Badan POM. 2026. Kepala BPOM Dorong Jamu Indonesia Kuasai Pasar Global. Di akses dari https://www.pom.go.id/berita/kepala-bpom-dorong-jamu-indonesia-kuasai-pasar-global pada 23 Agustus 2026.
BPS. 2025. Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024. Volume 13, 2025. Badan Pusat Statistik.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. 2020. Konsumsi Jamu Meningkat, Pemerintah Berdayakan UMKM dengan Pendekatan Klaster Obat Tradisional. Di akses dari https://ekon.go.id/publikasi/detail/493/konsumsi-jamu-meningkat-pemerintah-berdayakan-umkm-dengan-pendekatan-klaster-obat-tradisional pada 23 Agustus 2026.
UNESCO. 2023. Jamu Wellness Culture. Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Di akses dari https://ich.unesco.org/en/RL/jamu-wellness-culture-01972 pada 22 Agustus 2026.
Wahyuni, Endah. 2023. Jamu Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Di akses dari https://wantimpres.go.id/id/newsflows/jamu-resmi-jadi-warisan-budaya-tak-benda-unesco/ pada 22 Agustus 2026. World Health Organization. 2025. Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034. Geneva: WHO.




